Perubahan ala Lik Pudjo

Lik Pudjo
(Photo Courtesy: Irfan Yusuf)

Lik Pudjo adalah salah satu warga Kinahrejo, lereng selatan G. Merapi yang juga merupakan salah satu abdi dalem Kraton Yogyakarta yang bertugas untuk menyelenggarakan upacara adat Labuhan. Sudah puluhan tahun pula Lik Pudjo dengan kesederhanaannnya melayani para pecinta alam Jogja. Di kala senggang malam, Lik Pudjo bercerita (dan berkomentar) tentang banyak hal. Mulai dari asal usul manusia, kehidupan di dunia, manusia Jawa, dan perubahan zaman hingga perubahan iklim.

Perubahan iklim beberapa tahun terakhir ini, menurut Lik Pudjo bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan oleh manusia. Perubahan iklim merupakan bagian dari hukum alam yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, sudah ‘sunnatullah’. Kalaupun sekarang musim penghujan, tapi kok malah panas menyengat, itu merupakan bagian dari ‘sunnatullah’. Perubahan pasti terjadi, tinggal manusia menentukan respon seperti apa terhadap perubahan tersebut.

Adalah sebuah pilihan, ketika ‘hujan’ datang, kita akan berbasah-basah, atau menggunakan payung atau berhenti untuk berteduh. Begitu pula ketika panas menyengat, kita akan berjemur badan, melanjutkan aktivitas, atau berdiam diri di dalam rumah adalah sebuah pilihan.

Persoalannya kemudian adalah apakah pilihan respon tersebut sesuai dengan tujuan kita hidup, sesuai dengan lingkungan sekitar, dan sudah sesuai dengan tuntunan agama. Jika pilihan respon tidak sesuai dengan ketiga hal tersebut, maka yang sering terjadi adalah keputus-asaan, rendah diri atau bahkan sebaliknya, memunculkan manusia yang tidak punya malu alias bebal.

Perubahan iklim bukanlah iklim yang berubah secara an sich ataupun berubah menjadi ‘bentuk’ (iklim) yang lain, namun iklim telah bergerak, bergeser atau menyesuaikan diri layaknya manusia yang berkembang dari bayi hingga tua. Demikian juga dengan perubahan zaman, bukan karena zamannya berubah sendiri, tapi zaman telah mengikuntuki ‘jalan’ yang telah disediakan, yaitu jalan ketetapan takdir.

Respon terhadap ketetapan takdir tidak dimaknai sebagai kepasrahan total & berdiam diri, tapi disikapi dengan memilih respon atas jalan yang sudah disediakan, seperti halnya memilih berteduh atau tidak – ketika hujan mengguyur atau panas mendera. Respon yang dipilih dapat belajar dari ilmu pengetahuan (ilmu titen) yang sdh berkembang & msh relevan dengan kondisi sekarang. Ilmu ‘pranoto mongso’ masih berguna meskipun ‘udan salah mongso’, bahkan menunjukkan inti dari ilmu tersebuntuk, yaitu klasifikasi pergeseran musim sebagai konsekuensi kodariati. Oleh krn itu, ketetapan takdir tidak untuk diperdebatkan, tetapi untuk dijalani, untuk direspon dengan ilmu yang benar.

Itulah ‘perubahan’ menurut Lik Pudjo, yang dialih bahasakan (semoga tidak merubah makna). Meskipun masih ada pertanyaan tentang ‘makna’ ketetapan takdir, saya tetap mengacungkan jempol rolas untuk pemikiran dan pemaknaan tentang perubahan yang berbeda pada umumnya.

Maturnuwun Lik, atas alternatif bg kami untuk belajar. Insya Allah, ilmu tersebuntuk menjadi amal jariyah anda. Amin.

(Catatan ini dibuat setelah erupsi G. Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010, dimana Lik Pudjo menjadi salah satu korban luka bakar. Setelah dirawat beberapa hari di RSUP Sardjito, beliau meninggal dunia. Sugeng tindak Lik wonten alam karahayon. Mugi-mugi tinansah kaberkahan dumateng Gusti Ingkang Murbeng Dumadi. Amiin.)

Rumah Lik Pudjo, sebelum dan sesudah erupsi G. Merapi 2010

(Photo courtesy /left to right: Mapala BMC, badhak, Samuel Gempita Nusa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s