Kisah-Kisah Yang Tercecer

Prolog

Dua kisah ini merupakan cerita yang tercecer dari banyak kisah yang menceritakan evakuasi warga yang bermukim di sekitar Kantor Kecamatan Cangkringan Sleman. Seperti kita ketahui bersama, jika sekitar 5 dusun yang berada di sebelah utara dan timur Kantor Kecamatan Cangkringan luluh lantak akibat material lahar panas yang dimuntahkan Gunung Merapi ke Kali Gendol tanggal 5 November 2010 dini hari. Kisah ini tidak hendak menceritakan kepahlawanan para relawan dan anggota Tim SAR, namun lebih bertujuan untuk memperluas wawasan kita bahwa proses evakuasi tidak semudah yang dibayangkan oleh banyak orang. Oleh karena itu, para relawan dan anggota Tim SAR yang disebutkan dalam kisah ini, identitasnya disamarkan. Penyamaran tersebut juga atas permintaan para relawan dan anggota Tim SAR kepada penulis, agar nilai ibadah mereka tidak terkurangi pahalanya karena riya’. Penulis hanya menyajikan ulang, sesuai dengan apa penuturan dan catatan para relawan dan anggota Tim SAR kepada penulis. Adapun kekurangan dalam penulisan ulang ini, penulis memohon maaf.

Tim SAR sedang menyisir pemukiman penduduk, 6 November 2010


Kisah Rumah Tanah Sepetak

Brakk!! Seketika pintu depan sebuah rumah terbuka karena didorong tangan yang terkesan terburu-buru. “Bapak, panjenengan saweg nopo?” (Bapak, anda sedang apa?) tanya Mawar 1, selaku Komandan SRU (Search and Rescue Unit) Mawar yang diberi tugas untuk melakukan penyisiran di Dusun Bakalan Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan Sleman. Bapak yang empunya rumah dengan sedikit terkaget menjawab “Ajeng dhahar Mas. Monggo pinarak” (Hendak makan Mas. Silahkan masuk), sambil membawa sepiring nasi yang masih mengepul. Mawar 1 tersentak dengan jawaban tersebut. “Mboten, sampun, maturnuwun. Sak meniko njenengan kedah nderek kulo, monggo mandhap sarengan. Kedah sak meniko”(Tidak, sudah, terima kasih. Sekarang Anda harus ikut saya, mari turun bersama. Harus sekarang) timpal Mawar 1 dengan nada sedikit “memerintah”. “Lha wonten menopo? Kok kulo kedah mandhap. Kulo niki ajeng sarapan” (Lha, ada apa? Kok saya harus turun. Saya sekarang hendak sarapan) jawab si Bapak. “Lho pripun toh. Lahar Merapi niku sampun dugi wonten wingking griyane njenengan. Monggo! Gek cekat-ceket!” (Lho gimana toh. Lahar Merapi itu sudah sampai belakang rumah Anda. Mari! Secepatnya!) sahut Mawar 1 mulai tidak sabar. “Nggih pun. Kulo tak nderek njenengan. Sri…Sri..ayo gek ndang ndene. Iki lahar-e wes tekan mburi omah” (Ya sudah. Saya akan ikut Anda. Sri… Sri… ayo segera ke sini. Itu laharnya sudah sampai belakang rumah) teriak si Bapak memanggil anaknya. Sejurus kemudian seorang perempuan yang lebih muda keluar dari ruangan lainnya dengan muka kebingungan. “Ono opo Pak?” (Ada apa Pak?) tanya si Sri. “Awake dewe dijak medhun karo bapake iki. Ayo cepet” (Kita diajak turun Bapaknya ini. Ayo cepat) jawab si Bapak. “Yo, kosik. Tak njupuk salin” (Ya, sebentar. Saya ambil baju ganti) sahut si Sri. “Ra sah nggowo salin. Ayo gek ndang” (Tidak usah bawa baju ganti. Ayo lekas) sergah si Bapak. Saat yang bersamaan Mawar 2 masuk ke rumah tersebut. “Bagaimana Mas?” tanya Mawar 2 kepada Mawar 1. Mawar 1 pun menyahut “Bantu si Sri agar cepat berkemas!”. “Ya!” jawab Mawar 2 seraya berlari mengejar si Sri. Karena melihat kepulan asap, Mawar 1 segera bergerak mendekat ke sumber asap. Ternyata sumber asap berasal dari sebuah tungku yang masih memasak sayur yang sedang mendidih. Dengan topi rimbanya yang dilipat, Mawar 1 menurunkan wajan tempat memasak sayur tersebut, dan kemudian menumpahkan isinya ke dalam tungku agar api padam.

Mawar 1 kemudian bergerak ke ruang depan. Sesaat Mawar 1 sempat memperhatikan seisi rumah tersebut. Rumah yang sangat sederhana. Berlantai tanah dan berdindingkan anyaman bambu. Perhatian Mawar 1 terhenti pada sebuah televisi ukuran kecil ketika si Sri datang dengan berlari dari kamarnya dan diikuti oleh Mawar 2. Ketika menoleh keluar pintu, ternyata si Bapak sudah di depan rumah sambil berkomat-kamit berdo’a. “Ayo! Jangan terlalu lama! Cepet!” teriak Mawar 1 kepada Mawar 2. Mawar 1, Mawar 2 berserta 2 warga tersebut setengah berlari keluar rumah dan menuju jalan dusun. Dari arah lain Mawar 3 juga dengan berjalan tergesa bersama seorang laki-laki yang berusia sekitar 45-an tahun. “Mawar 2 dan Mawar 3, segera bawa warga ke titik penjemputan!” perintah Mawar 1. “Yak!” jawab Mawar 2 dan Mawar 3 serentak. Kelima orang tersebut segera menyusuri jalan dusun dengan berlari. Dari arah lain Mawar 4 dan Mawar 5 keluar dari sebuah rumah bersama dua orang yang sudah tua, laki-laki dan perempuan. Mawar 1 sempat menengok ke belakang untuk memastikan tidak ada orang yang masih tertinggal di belakang. Pandangannya terhenti pada rumah si Bapak dan si Sri. Rumah yang hanya terbagi menjadi ruang tamu sekaligus ruang keluarga, ruang tidur, dan dapur, berdindingkan anyaman bambu dan berlantai tanah. Rumah tersebut terletak tidak lebih dari 75 meter dari tepi barat Kali Gendol yang sudah penuh dengan lahar panas. Sungguh Tuhan memberkahi kedua orang penghuni rumah dengan menghindarkannya dari muntahan lahar panas. Padahal rumah tetangganya yang berada sekitar 50 meter di bawahnya dan lebih jauh dari tepi barat Kali Gendol sudah terkubur separuh bangunan. Sungguh Tuhan Maha Kuasa.

“Mawar 1. Mawar 1 monitor?” panggi radio handy talkie. “Monitor” jawab Mawar1. “Posko di sini. Posisi di mana Mawar 1?” tanya operator di Posko. “Sedang meluncur!” sahut Mawar1 sambil berlari mengejar rombongan di depan. “Segera turun! Aktivitas meningkat! Segera turun!” perintah Posko. “Siap. SRU Mawar sudah meluncur dengan membawa paket sebanyak 5 orang. Dua orang manula!” terang Mawar 1. “Oke! Segera kami luncurkan ambulans untuk menjemput!” balas Posko. “Untuk ambulan tahan dulu. Kondisi masih memungkinkan untuk berlari. Mobil penjemput harus siap meluncur” sahut Mawar 1 dengan tetap berlari. Setelah berlari sekitar 500 meter dan menyusul rombongan SRU Mawar beserta kelima warga, Mawar 1 sampai di mobil penjemput dan Tim Mobile yang sedang menunggu di jalan tepi besar. “Tim Mobile mlebu (masuk), terus ambil warga sing mburi dewe(yang paling belakang). Manula dan perempuan!” pinta Mawar 1 kepada Tim Mobile 1 yang menggunakan sepeda motor trail. Tim Mobile 1 tanpa berkata-kata langsung meluncur menyusuri jalan exit point. Sekitar 30 detik kemudian rombongan SRU Mawar dan 4 orang warga sudah kelihatan. Tak berapa lama kemudian Tim Mobile 1 menyusul dengan memboncengkan seorang nenek. Semua warga tersebut dan 4 orang anggota SRU Mawar segera naik ke mobil penjemput. “Ayo! Cepat jalan!” teriak Mawar 1. Mawar 1 segera melompat ke jok motor trail Tim Mobile 1 dan meluncur menyusul mobil yang sudah melaju kencang ke bawah, menuju Titik Aman 1, yaitu di depan Kantor Kecamatan Cangkringan.

Dalam perjalanan turun tersebut, Mawar 1 teringat rumah tanah sepetak yang berlantai tanah tadi. Teringat bahwa pintu depan rumah tersebut tidak terkunci ketika ditinggalkan. Teringat bahwa satu-satunya benda yang layak dicuri dari rumah tersebut adalah sebuah televisi ukuran 14 inchi. Terhenyak Mawar 1. Menyesal. Dirinya merasa bahwa dia telah lupa mengunci pintu depan, sehingga memungkinkan pencuri untuk mengambil harta paling berharga di rumah itu. Mawar 1 pun menggerutu, memarahi dirinya sendiri karena kelalaian yang bisa merugikan orang lain. Bahkan setelah sampai di Titik Aman 1, dirinya masih belum bisa menerima “kesalahan” yang telah diperbuatnya. Setelah itu, dirinya hanya bisa berdo’a agar Tuhan menjaga rumah tersebut dari pencuri, seperti Tuhan “membelokkan” muntahan lahar panas agar tidak menghantam rumah tersebut, rumah tanah sepetak. Amiin.

Kondisi Dusun Gadingan Argomulyo, Cangkringan, sekitar 25 meter tepi timur Kali Gendol, 6 November 2010

Kisah Kesetiaan Si Penunggu Cucu

Jam menunjukkan sekitar jam 05.45, dengan cuaca agak mendung dan sudah banyak orang yang berkumpul di depan Kantor Kecamatan Cangkringan. Tiga SRU sudah diberangkatkan untuk menyisir Dusun Bronggang, Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan yang terletak sekitar 200 meter hingga 400 meter di sebelah barat Kali Gendol. SRU Merah dengan kekuatan 10 orang menyusur dari sisi timur dusun, SRU Hijau dengan kekuatan 8 orang dan SRU Biru dengan kekuatan 10 orang menyusur dari sisi barat. Skenarionya adalah SRU Merah dan SRU Hijau melakukan penyisiran danmarking rumah warga dusun yang terdapat korban meninggal di dusun tersebut, sedangkan SRU Biru difungsikan sebagai back up untuk SRU Merah dan SRU Hijau.Pelaksanaan evakuasi akan dilaksanakan oleh TNI dan relawan lainnya.

Sekitar 45 menit kemudian ketiga SRU tersebut bertemu di tengah dusun. Setelah ketiga komandan SRU berkoordinasi diputuskan bahwa ketiga SRU ditarik dahulu ke Titik Aman 1, yaitu di depan Kantor Kecamatan Cangkringan. Sesaat kemudian, seluruh anggota ketiga SRU tersebut diperitahkan untuk bergerak cepat menuju Titik Aman 1 yang berjarak sekitar 400 meter di bawah titik pertemuan. Belum lama berjalan, tiba-tiba terdengar panggilan “Mas…Mas…tulung Mas!”. Semua anggota SRU serentak menoleh ke belakang. Biru 1, selaku komandan SRU Biru, segera mendekat ke orang tersebut, yang ternyata seorang pemuda. “Gimana Mas? Ada apa Mas?” tanya Biru 1.

“TulungMas. Sejak semalam Mbah Marto belum ditemukan. Kata keluarganya semalam berada di kebon” (kebun/sawah) jawab pemuda tersebut. “Njenengan sinten-e? Kebon sebelah pundi Mas?” (Anda siapanya? Kebunnya sebelah mana?) cecar Biru 2. “Kulo tonggo-ne. Kilen ndesa” (Saya tetangganya. (sebelah) Barat desa) sahut pemuda. “Kamu, kamu dan kamu, ikut saya” tunjuk Biru 1 kepada Biru 2, Biru 3 dan Biru 4. “Mas,njenengan nderek kulaDuduhne letak-e kebon niku!” (Mas, Anda ikut saya. Tunjukkan letak kebun itu!) pinta Biru 1 kepada pemuda desa tersebut. “Anggota SRU Biru lainnya bergabung dengan SRU Merah dan segera turun ke Titik Aman 1” lanjut Biru. Empat orang SRU Biru segera berlari mengikuti pemuda desa tersebut.

Tak berapa lama kemudian, kelima orang tersebut sudah sampai di pinggir pemukiman. Setelah melewati sebuah sungai kecil, rombongan tersebut sampai di tepi sebuah persawahan. Yang mengagetkan adalah di depan rombongan terhampar lahar yang masih mengepulkan asap. “Mas, kebon-e neng sebelah ngendi?” (Mas, kebunnya sebelah mana?) tanya Biru 1 kepada pemuda desa. “Kulon sawah niki Mas” (Barat sawah ini Mas) jawab pemuda desa. “Weh lhadalah!” celetuk Biru 3. “Mas, njenengan balik mawon. Simbah-e ben digoleki konco-konco” (Mas, Anda balik saja. Si Kakek biar dicari teman-teman) kata Biru 1. Pemuda desa tersebut kemudian balik kanan, menyusuri jalan tadi. Segera Biru 1 memerintahkan Biru 3 untuk mencari jalan alternatifmenuju kebon yang dimaksud. “Biru 3, cari jalan. Melambung dari bawah!” perintah Biru 1. Biru 3 segera berlari menyusuri pematang sawah, dan diikuti tiga orang lainnya. Tak berapa lama, terlihat atap gubuk. Biru 2 yang berada di belakang Biru 1 beteriak, “Mbah… Mbah Marto… Mbah…!”. Biru 3 juga ikut berteriak memanggil. Lamat-lamat terdengar sahutan.

Mbah Marto tampak sedang berdiri ketika keempat orang SRU Biru muncul berurutan. Tidak nampak ketakutan atau kepanikan di raut wajahnya yang berusia sekitar 70-an tahun. Setelah empat orang SRU Biru sampai di hadapannya, Mbah Marto duduk kembali. Di sampingnya terdapat sebuah buntalan deklit (terpal) warna oranye. “Nggo Mbah…nderek kulo. Mandhap sarengan!” (Mari Mbah…ikut saya. Turun bersama!) kata Biru 3. “Ajeng tindak pundi?” (Mau pergi ke mana?) tanya Mbah Marto dengan muka lugu. “Tindak Bale Desa, Mbah” (Pergi ke Balai Desa, Mbah) sergah Biru 1. “Kulo mboten purun!” (Saya tidak mau!) jawab Mbah Marto. “Lha kok mboten purun piye toh Mbah?” (Lha kok tidak mau gimana toh Mbah?) tanya Biru 2. “Kulo niki ngenteni putu kulo” (Saya itu menunggu cucu saya) jawab Mbah Marto dengan tenang. “Putu-ne njenengan mpun mandhap wau dhalu. Sak niki mpun wonten Bale Desa” (Cucu Anda sudah turun tadi malam. Sekarang sudah berada di Balai Desa) timpal Biru 1. “Mboten. Pokok-men kulo ngenteni putu kulo. Nak mboten karo putu kulo, kulo mboten purun!” (Tidak. Pokok-nya saya menunggu cucu saya. Kalau tidak dengan cucu saya, saya tidak mau!) tegas Mbah Marto. Debat antara anggota SRU Biru dengan Mbah Marto pun tak terhindarkan. Bahkan Mbah Marto sempat menceritakan proses datangnya lahar panas yang menimbun persawahan dan kebun yang berada di depannya. Menurutnya, beberapa saat sebelum kedatangan anggota SRU Biru, lahar panas tersebut masih membara. Sungguh sebuah keajaiban dari Tuhan. Mbah Marto yang duduk semalaman terhindar dari lahar panas yang hanya berjarak sekitar 70 meter dari gubuknya!

Setelah beberapa saat, Mbah Marto bersedia turun bersama Biru 3 dan Biru 4. Biru 1 mengambil alih pesawat HT dan memanggil Posko, “Posko, Biru 1 panggil”. “Diterima Posko. SRU Biru segera turun. Harus segera turun!” perintah Posko. “Di-copy Posko. SRU Biru meluncur ke Titik Aman 1” jawab Biru 1 sambil berlari di belakang Biru 2 yang membawa bungkusan milik Mbah Marto. Sekitar 100 meter kemudian, tiba-tiba Posko memanggil, “Biru 1. Biru 1 segera turun! Segera turun! Awan panas meluncur ke arah Kali Gendol. Segera turun!”. Tanpa menjawab Biru 1 dan Biru 2 berlari sekencang mungkin menuju Titik Aman 1, yang ternyata masih berjarak lebih dari 300 meter. Tak lama kemudian terlihat kendaraan Posko, yang ternyata merupakan mobil terakhir yang berada di Titik Aman 1. Komandan Operasi berteriak-teriak memanggil Biru 1 dan Biru 2 untuk berlari cepat.

Biru 2 masih berlari di depan Biru 1. Sejurus kemudian Biru 2 berteriak, “Biru 1 lompati saja pagar itu!”. Seketika Biru 1 menoleh ke sebelah kanan dan melihat Biru 2 sudah melempar bungkusannya Mbah Marto ke sisi lain pagar setinggi 1,5 meter. Biru 2 melompat dengan sigap. Biru 1 sempat ragu untuk melompat, karena di antara dirinya dan pagar terdapat selokan selebar setengah meter. Bermodal nekad, Biru 1 melompat pagar tersebut dan berhasil walau mendarat dengan tidak sempurna. Biru 2 sudah berada di atas motornya dalam kondisi mesin menyala. Biru 1 kemudian menghidupkan mesin motor. Gagal hidup. Panik sudah menyergap. Terdengar Komandan Operasi beteriak, “Biru 1 jangan kelamaan.Cepat dari mobil yang sudah bergerak turun. Biru 1 mencoba lagi. Berhasil. Motor segera meluncur turun hingga 2 kilometer di bawah Titik Aman 1. Biru 2 sudah menunggu kedatangan Biru 1. Sesampainya di samping Biru 2, Biru 1 bertanya “Bungkusannya tadi mana?”. Biru 2 hanya menggeleng. Bersamaan Biru 1 dan Biru 2 memutuskan untuk menuju ke Posko Statis yang berjarak 2,5 kilometer di depan. Sepanjang perjalanan, Biru 1 hanya bisa membayangkan kesulitan dan kesesuahan yang akan dialami Mbah Marto karena tidak membawa bekal apapun kecuali pakaian yang melekat di badan. Pun Biru 1 juga merasa bersalah telah “menipu” Mbah Marto tentang keberadaan cucunya. Biru 1 hanya bisa bicara dengan dirinya sendiri, “Maafkan kami Mbah. Semoga Simbah bertemu dengan cucu tercinta”.

Gubug di tengah sawah, tempat dtemukannya Mbah Marto, 6 November 2010

Epilog

Dua kisah di atas hanyalah sekelumit dari sekian banyak kisah yang belum terekspos di berbagai media. Banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari kisah-kisah di atas. Kita bisa belajar bersama tentang kompleksitas warga dusun di daerah rawan bencana, kemauan (dan sedikit kenekadan) para Tim Evakuasi, pengambilan keputusan yang tepat dan sekaligus berpacu dengan waktu, ketidakhadiran pemerintah di saat sebagian warga masyarakat membutuhkan pertolongan, dan tentunya sisi humanis dalam proses evakuasi. Dari informasi yang didapat penulis, bahwa sebagian besar anggota Tim Evakuasi menggunakan biaya sendiri untuk bisa terlibat di lapangan, melaksanakan tugas dengan baik dan tanggung jawab yang tidak bisa diremehkan, dan tidak meninggalkan pendekatan humanis selama proses evakuasi. Bahkan ada sebagian anggota Tim Evakuasi yang bersedia menceritakan kisahnya namun tidak bersedia namanya dipublikasikan oleh media.

Dari banyak hal tersebut, menunjukkan bahwa masyarakat tidak sepenuhnya lumpuh ketika menghadapi krisis Gunung Merapi bahkan mampu mengambil fungsi yang gagal dilaksanakan oleh pemerintah. Meminjam istilah seorang teman, segenap masyarakat mampu melaksanakan “self governance” dalam hal evakuasi masyarakat di lereng selatan Gunung Merapi. Bagi penulis, kisah-kisah ini bisa menjadi pukulan yang cukup telak bagi  pemerintah dikarenaka tindakan-tindakan yang diimplementasikan tidak sebanding dengan dukungan dana, sarana dan prasarana yang dimiliki. Lebih ironisnya, semua dukungan tersebut menggunakan dana yang berasal dari masyarakat. Ke depan, pelajaran yang telah dibagikan oleh para anggota Tim Evakuasi ini bisa memperkuat wawasan bagi kita dalam merespon dengan lebih arif terhadap kondisi yang dialami oleh masyarakat. Semoga.

Kondisi pemukiman Dusun Ngancar, 6 November 2011

(Terimakasih untuk seluruh anggota Tim Evakuasi yang telah berkerja dengan sangat baik di lapangan, dan mohon maaf atas ketidakcermatan saya dalam menceritakan ataupun menuliskan kembali kisah yang anda alami.)

Ditulis ulang oleh: Badhak, Asep, dkk

Artikel terkait :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s